Libur tenang di Pasir Batang

Dari Kecamatan Kadugede Kabupaten Kuningan ke arah barat melewati desa Babatan,desa Bayuning,Desa Tinggar terus ke arah barat ketemu desa Ciherang,desa Cisukadana sampailah ke desa Karangsari yang secara wilayah masuk ke Kecamatan Darma masih Kabupaten Kuningan Jawa Barat.Itu sekilas letak geografis tempat yang akan saya tuju untuk mengisi waktu libur kali ini.

Bersama anak lelakiku yang masih duduk di kelas 2 SD aku buang sepi dan mengisi libur kali ini dengan tujuan sebuah tempat yang masih asri dan belum banyak orang datang dan di kenal oleh para pemburu keindahan.Mengendarai tunggangan kecil 125 CC jenis matic warna merah yang setia menemaniku kemanapun aku mau,walau sedikit mengeluh ketika melewati tanjakan yang cukup curam di blok Golodog desa Ciherang tapi tungganganku ini masih dapat diandalkan dengan lincah dia ngabret membawa aku dan anaku melaju kencang menuju desa Karangsari siang itu jam 11.05 Wib.Berhenti dulu untuk membeli logistik yang diperlukan disebuah Toserba ala pedesaan,disambut segurat senyum dari pelayan toko yang dengan cekatan menyelsaikan tugasnya tak lama yang kubutuhkan sudah ada dalam keresek hitam dan tinggal bayar di kasir.Kembali senyum ramah di lemparkan tanpa kata cuma bahasa mata yang bicara seolah berkata nanti nanti kalu belanja kesini lagi ya.Hahahaha….apa itu cuma tafsiranku saja,tapi sudahlah setidaknya aku sudah berpikir positif daripada aku menyangka yang jelek kan suudzon jatuhnya.Matic merah kembali kupacu menembus keheningan jalan desa siang itu,sekitar 7 belokan kulalui sampailah aku ke desa karangsari,habis permukiman penduduk aroma sayuran silih berganti menyentil indra penciumanku,dari mulai wangi bawang daun,wangi bunga kol dan yang paling sering adalah wangi tanah khas lereng pegunungan Ciremai.

Dari sini perjalanan diatas jalan tanah dimulai melewati ladang sayur sayuran para petani yang asik bercengkrama dengan alam,yang ramah ketika berpapasan salam sapa dan sekedar senyum tulus selalu menyapaku.!5 menit sampailah di gerbang Pasir Batang sebuah objek wisata yang tersembunyi di tanah Karangsari,deretan pohon pinus menyambut kami berdua,semilir angin yang pelan mengelus wajahku,kuusap wajahku sambil berkata “alhamdulilah nyampe kita nak”.

Dua orang penjaga tiket menghadang menyodorkan tiket masuk,Rp 10.000 kuberikan dan sampailah aku diparkiran dengan sah memberi pemasukan buat pengelola objek wisata.

Dengan riang gembira anaku berlari mendahului langkahku yang oelan karena dipundaku ada keril yang harus kubawa dengan segala peralatan dan logistik didalamnya.

Dipinggir batang pohon pinus yang sudah tergeletak tumbang ditanah aku pilih tempat untuk menggelar matras,kukeluarkan semua peralatan yang ada didalam tas besar yang bernama keril,anaku langsung menyambar makanan yang dia suka sambil berselonjor”Alhamdulilah nyaman sekali disini ayah”teriak anaku.Sementara anakau menikmati makanan sambil rehat sejenak aku langsung memasang hamock diantar pohon pinus yang ada paling dekat dari matras,setelah beres masang hamock aku langsung mencari kayu bakar untuk membuat api.Tak susah mencari kayu bakar kering disini,dirasa cukup aku kembali dan duduk di matras menyiapkan makana yang kan segera diproses untuk makan siang bersama anaku.Sambil menunggu masakan matang aku naik dan rebahan di atas hamock sambil menikmati indahnya suasana sambil tengadah keatas kulihat pucuk pucuk pinus melambai,menggelitik daya ciptaku dan sepontan ku teriak ‘Oh….Pucuk pucuk pinus”,terdengar oleh anaku dia tertawa terbahak bahak sambil menirukan kata kataku tadi”oh..pucuk pucuk pinus”dia tertarik untuk ikut bersam sama di hamock,kami berdua bernyanyi nyanyi sesuka hati entah lagu apa akupun tak tahu di iringi gemeretak suara pohon yang bergesekan tertiup angin.

2 cangkir susu sudah tergenang di dalam gelas dan beberapa makana sudah meluncur manis kedalam perut kami berdua,seruputan pertama susu coklat membuat tenggorokan terasa hangat dan nyaman mendarat mulus di perut kami berdua.Api unggun yang sudah mulai kecil menyisakan bara api di tiap suluh dan batang pinus yang terbakar,ku keluarkan 2 bubuy boled yang dari tadi sudah dikubur ditengah api yang menyala.Dengan dua kali tepukan dan satu kali irisan dua bubuy boled sudah terbelah dua mengeluarkan asap tipis beraroma khas umbi bulat penghasil utama kentut.Susu dalam saset dituang ke tengah tengah boled yang sudah pasrah terbelah.

Candaan anaku yang berlari lari kesana kemari membuatku semakin bahagia karena ternyata tak hanya dengan materi dan liburan ke Mall dan teknologi Games yang bisa membuat anaku tertawa riang dalam bermain.Disini di pasir Batang kami merasa tenang,bisa bersahabat dengan alam menikmati makanan yang sederhana khas anak desa.Ku usap kepala anaku Naufan Putra Al Ghifari,,jadilah rajawaliku semoga engkau menjadi pedangku untuk menebas ketakutan dalam mengarungi hidup ini.Hanya itu yang bisa kubisikan dalam hati sambil mengusap kepala anaku yang mendekatiku ketika minta disuapi secomot bubuy boled.

Terus dia berlari lagi menaiki ayunan yang ada jauh dari tempatku duduk,ku biarkan dia melepaskan segala keingintahuan tentang dunia ini.Di Pasir batang aku terkenang beberapa tahun kebelakang,ketika masa masa sulit yang harus kulalui bersama anaku,ku hisap rokok dalam dalam sambil ku bolak balik susluh yang mulai padam.Tak kuasa kuceritakan,ku lemparkan kenangan itu ke pucuk pucuk pinus yang masih tegak menuding langit.Dari belakang anaku menggelayut naik ke pundaku minta dipunggu,dari mulut kecilnya terus nyerocos senandung “pucuk pucuk pinus” seolah olah dia tau kalau di pucuk pucuk pinus yang dia senandungkan ada seonggok kegundahan yang kugantungkan.Firasat kecil kutangkap dari raut wajah anaku,seolah dia berkata jangan gundah ayah ada aku anakmu yang bisa kau banggakan kelak.Ku pegang erat tangan anaku beranjak aku berdiri sambil menggendong anaku dipundak menari nari kesana kemari sambil teriak bersma anaku menyanyikan”Pucuk pucuk pinus”.

Tak terasa sudah jam 4 sore kami disini di Pasir Batang desa Karangsari,sebuah tempat tersembunyi di lereng gunung Ciremai yang telah memberi sebuah libur kecil penuh makna buat kami.Bergegas aku bereskan semua dan siap siap untuk pulang,Bau getah pinus memberi kesan terakhir perpisahan kami dari tempat ini.Matic merah yang sudah dingin joknya kembali ku selah untuk memanaskan mesinnya dan kupacu menyusuri jalan pulang.10 meter dari pasir batang aku bergumam dalam hati Terima kasih ya allah atas semua nikmat yang telah engkau berikan pada kami,ku usap kepala anaku sambil berkata “baeu baeu semoga selamat sampai rumah ya nak”.Dia malah membalas dengan tertawa dan teriak “ayah ayo kita nyanyi bareng lagu tadi”Pucuk pucuk pinus”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *